Cerita ini milik Saya!!!lantas, kalau bukan Saya siapa lagi yang bersedia cerita kepada Saya tentang ini semua?Apakah kalian mau....???
Semua berawal ketika Saya kembali ke kampung halaman Saya pada Akhir Juni 2007, tapi cerita ini Saya tulis pada beberapa lembar kertas (yang kini telah usang), pada tanggal 04 Juli 2007, perasaan saya hancur lebur pada saat menulisnya.
Cukup lama untuk memutuskan, mempublikasikan tulisan ini. Saya tidak pernah tahu perasaan Saya pada saat itu akan sampai atau tidak pada kalian.
Pada kertas yang Saya tulis.....tulisan Saya ini diberi judul Kebobrokan Sistem Pemerintah!. Entah apa yang terlintas pada saat itu....tapi inilah hasil tulisan Saya.

Saya mahasiswi di salah satu Universitas Negeri di Kota Pelajar, Yogyakarta. KTP Saya diterbitkan dan dikeluarkan oleh Pemerintah daerah tempat Saya dibesarkan yaitu Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Saat ini, Saya dituntut untuk melakukan penelitian guna menyelesaikan Skripsi/ Tugas Akhir. Dengan harapan yang besar agar mendapat kemudahan dalam penelitian, Saya mengambil skripsi tentang Gurindam Dua Belas. Sebuah karya yang luar biasa dari Pahlawan Melayu Raja Ali Haji.

Untuk melaksanakan penelitian, tentunya butuh support yang luar biasa dari berbagai pihak. Support yang berupa materi dan e-materi.
Kebetulan sekali, Saya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, Bapak Saya hanya seorang pensiunan BUMN. sedangkan Ibu Saya hanya Ibu Rumah Tangga yang teladan untuk keluarganya.

Jauh sebelum Saya melakukan penelitian di KOTA GURINDAM, saya mendapatkan bocoran dari dosen pembimbing Skripsi Saya, beliau mengatakan kalau disetiap daerah memiliki dana bantuan untuk penelitian mahasiswa. Pernyataan ini diperkuat oleh 2 teman Saya yang dengan mudah memperoleh bantuan dana penelitian dari Pemerintah.
Atas saran dari dosen itulah Saya ikut mengajukan proposal dana penelitian, karena dilihat dari background keluarga, tidak mampu membantu proses penelitian sampai dengan penyusunan laporan skripsi Saya hingga selesai.

Pada tanggal 19 Juni 2007, Saya menghadap ke bagian proposal Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau, setelah membaca penelitian Saya, Kabag yang berinitial "N" langsung mengatakan bahwa proposal dana yang Saya ajukan segera diproses. Dengan catatan, Saya harus melampiri kartu mahasiswa dan kartu hasil studi Saya.
glitter-graphics.comPada tanggal 20 Juni 2007, Saya kembali ke kantor Gubernur (Pemerintahan Propinsi) untuk memberikan dua lampiran yang disebutkan diatas. Tapi ternyata ruang bagian anggaran proposal terkunci. Padahal saat itu Saya datang pada pukul 10 pagi. Saya tunggu didepan ruangan tersebut sampai dengan pukul 11, tapi tidak dibuka. Karena Saya berpikir karyawan sedang rapat, Saya pun pulang.
glitter-graphics.comPada tanggal 21 Juni 2007, Saya kembali lagi ke kantor tersebut, menuju ruangan yang sama seperti kemarin. Sekitar pukul setengah sepuluh, ruangan masih terkunci, Saya menunggu diluar. Satu jam setengah kemudian ada seorang perempuan berpakaian dinsa mengetuk ruangan yang Saya tuju tadi, ternyata dibuka, dan ternyata selama satu jam setengah ada empat karyawan yang berada diruangan tersebut. Saya pun buru-buru ikut masuk dan bertemu dengan seorang karyawan berinitial "W" untuk memberikan KTM dan KHS Saya. Ternyata diluar dugaan Saya, pegawai tersebut mengembalikan proposal yang sehari sebelumnya telah dinyatakan diproses dengan initial "TL" didepannya yang mungkin berarti Tolak.
Satu jam kemudian, Saya datang kembali keruangan proposal tersebut bersama saudara Saya. Pada waktu itu, pegawai yang berinitial "W" mengatakan bahwa kalau proposal Saya dilengkapi dengan beberapa lampiran lagi maka akan diproses.
glitter-graphics.comPada tanggal 22 Juni 2007, Saya kembali ke ruangan yang sama untuk menyerahkan berkas yang diminta sehari sebelumnya. Mereka mengatakan akan di proses karena berkas-berkas sudah lengkap dan memenuhi syarat.
glitter-graphics.comPada tanggal 2 Juli 2007, Saya mendapat informasi dari pegawai PemProv bagian Anggaran yang berinitial "A" mengatakan bahwa proposal dana yang Saya ajukan 10 hari yang lalu tidak dapat di proses karena prosedurnya salah. Menurut beliau, prosedur yang yang benar sebelum Saya ajukan ke bagian anggaran proposal, haruslah sepengetahuan Dinas Pemuda dan Olahraga, kemudian ke bagian Ekonomi Pembangunan, lalu ke Sekretaris daerah baru kemudian bisa dicairkan di bagian Anggaran Proposal.
glitter-graphics.comTapi mengapa ketika pada tanggal 19/22 Juni 2007 Saya tidak diinformasikan bahwa prosedur diatas harus Saya lalui baru kemudian dana bantuan dapat dicairkan. Saya sangat kecewa ketika sebuah konstitusi tempat bernaungnya sistem pemerintahan sepertinya menutupi sebuah birokrasi dan prosedur yang seharusnya Saya lewati untuk memperoleh sebuah jalan yang benar.

Saya ingat ketika satu diantara dua teman yang Saya sebutkan diatas. Prosedur yang dia jalani untuk memperoleh dana bantuan penelitian tidaklah sesulit yang Saya alami, hanya dengan mengirimkan Proposal sederhana serta Hasil Studi, dalam waktu 1 bulan dana penelitian sudah diperoleh. Satu hal yang harus Saya tekankan disini, kedua teman Saya mempunyai backingan (orang dalam) yang membantu pengurusan mereka tersebut.
Sedangkan Saya atau lebih banyak masyarakat yang benar-benar sangat membutuhkan bantuan dana tersebut harus melewati serentetan prosedur yang luar biasa panjangnya. Bukan kami tidak bisa menjadi manusia penyabar, tetapi kami hanya membutuhkan dana tersebut tepat pada waktunya seperti pada "sebagian kecil" orang yang beruntung seperti dua teman Saya.
Demikianlah apa yang ada dipikiran Saya waktu tiu, Saya hanyalah Saya...seorang yang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa berbicara. Sebelum Saya posting coretan ini, Saya sempat ditawari pengurusan dana penelitian, dengan syarat Saya harus membayar backingan (orang dalam). Huf, seandainya Saya memang punya uang yang banyak, Saya tidak perlu mengharapkan uang pemerintah itu untuk penelitian Saya.
Sekarang, Saya masih dalam proses penyelesaian skripsi Saya dengan usaha Saya sendiri dan Orang-orang terkasih yang selalu mendukung langkah Saya. Semenjak kejadian itu, Saya trauma untuk mengharapkan sesuatu yang belum tentu akan terwujud.
Saya mulai benci dengan birokrasi pemerintahan yang busuk.